3 Jenis Tes Alergi dan Waktu yang Tepat Melakukannya

Hampir setiap orang memiliki sifat sensitif pada kekebalan tubuhnya untuk pengkonsumsian tertentu. Alergi bisa saja terjadi kalau sistem imun kamu mengeluarkan efek berlebihan dari makanan, minuman, mau pun lingkungan sekitarmu. Gejala yang ditimbulkan sebenarnya cukup umum, tapi dokter akan lebih menyarankan kamu melakukan tes alergi agar diketahui lebih jelas.

Tes alergi ada banyak macamnya. Yang paling sering dipakai oleh para dokter biasanya tes pada kulit. Kalau kamu mulai mendapat gejala-gejala alergi pada kulit atau organ tubuh lainnya karena terkena tungau debu, bulu hewan, obat-obat tertentu, serbuk sari, atau pun makanan mau pun minuman yang memicu alergi, biasanya dokter akan memberikan alternatif pemeriksaan lanjut dengan menggunakan jenis tes pada kulit ini.

Tapi, sebelum kamu mendapatkan perawatan ini, dokter akan menanyakan dulu beberapa hal ke kamu, seperti di mana kamu tinggal, kebiasaan makanan atau minuman yang dikonsumsi, gaya hidup yang biasa kamu lakukan, dan riwayat penyakitmu. Setelah mendapatkan semua jawabannya, barulah mereka melakukan tes alergi pada kulit selama kurang lebih 40 menit.

Berikut ini beberapa jenis tes pada kulit yang biasanya dipakai dokter.

  1. Tes tusuk kulit

Tes tusuk kulit sangat umum dipakai untuk mendeteksi apakah kamu terkena alergi karena serbuk sari, tungau, bulu binatang, atau produk yang dikonsumsi lainnya. Kalau kamu orang dewasa, tesnya dilakukan di lengan bagian bawah, sedangkan anak-anak di punggung bagian atas.

Tidak usah takut dengan sakit jarumnya karena kamu tidak akan terasa sakit sama sekali. Jarumnya yang ditusukan ke kulit kamu tidak akan berasa, bahkan tidak sampai tembus kulit kamu. Setelah jarum disuntikan dengan memasukan cairan alergen, kamu harus tunggu selama 20 menit sampai reaksinya keluar.

Kamu yang positif alergi pada zat alergen itu akan mengeluarkan tanda pembengkakan disertai gatal-gatal. Kalau kamu tidak ada merasakannya, berarti hasilnya negatif.

  1. Tes tempel

Kalau yang tadi memakai jarum suntik, untuk tes alergi ini tidak memakai sama sekali peralatan jarum. Kamu hanya akan ditempelkan semacam patch atau koyo agar mendeteksi zat tertentu yang bisa mengeluarkan iritasi. Tempelan koyo itu mengandung beberapa zat alergen seperti obat-obatan, pengawet, perwarna rambut, resin, serta logam.

Butuh waktu yang lama buat mengetahui hasilnya. Kamu harus menunggu sekitar 48 jam lamanya sampai mengeluarkan reaksinya. Saat ditempelkan koyonya, hindari dulu semua aktivitas yang membuat kulitmu cepat berkeringat atau mandi.

  1. Tes injeksi kulit

Kembali lagi ke peralatan suntik. Tes injeksi kulit juga membutuhkan alat jarum suntik buat mengetes jenis alergi kamu. Tes ini biasanya dipakai dokter buat mengetahui reaksi alergi yang diakibatkan racun serangga atau pun penisilin.

Kalau pertama-tama kamu sudah melakukan tes tusuk tapi tidak memberikan reaksi apa-apa, maka dokter akan melanjutkan pengetesannya dengan memakai jenis tes ini. Tes alergi injeksi kulit lebih sensitif daripada tes tusuk.

Kapan waktu terbaik melakukan tes pada alergi? Sebaiknya kamu melakukannya kalau semua obat-obatan yang diberikan dokter tidak memberikan reaksi kesembuhan apa pun setelah beberapa lama pemakaian. Dokter akan menyuruhmu melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke bidang ahli alergi imunologi. Pengujiannya memakai ketiga tes yang sudah disebutkan di atas tadi.

Tapi kalau kulit kamu menunjukan adanya ruam, maka dokter akan merekomendasikan dulu kamu melakukan tes darah IgE. Cara itu bisa membantu meningkatkan keakuratan tes kulit yang awalnya terganggu akibat ruam-ruam di kulit.

Kamu yang sudah mulai terasa gatal, nyeri, atau pun bengkak di bagian tubuh tertentu, sebaiknya langsung periksa ke dokter. Bisa jadi itu tanda-tanda munculnya alergi. Lebih baik melakukan tes alergi dari awal agar gejala yang timbul tidak semakin parah.